Halo, teman-teman.
 
Beberapa di antara kalian yang sering mengikuti blog ini pasti menyadari: ada sesuatu yang berbeda di sini.
 
Yup.
 
1. Domain Baru. Akhirnya, saya punya domain beratasnamakan Alvi Syahrin sekarang! Alhamdulillah. Sejak tahun lalu, hal ini sudah terpikirkan. Namun, karena menimbang banyak hal, saya baru bisa memutuskannya tahun ini--saat novel ketiga saya akan segera terbit. (Yes! Novel ketiga akan segera terbit, postingannya segera!)
 
2. Template Baru. Template sebelumnya adalah salah satu template terbaik yang pernah saya gunakan. Akan tetapi, klise, saya sudah bosan dengan template tersebut. Saya butuh sebuah penyegar. Mencari template baru sungguh tak mudah. Antarmuka yang minimalis sekaligus atraktif adalah segalanya bagi saya. Dalam proses pencarian, saya langsung jatuh hati dengan template yang satu ini. Memang, sejak beberapa bulan (atau tahun?) terakhir, ada beberapa template bergaya linimasa seperti ini. Namun, yang paling menarik, ya, cuma ini.
 
3. Saya juga merapikan menu utama di blog ini. Cukup klik tombol yang berbentuk seperti to-do-list untuk melihatnya. 
 
***
 
Lalu, adakah yang baru dalam hidup saya?
 
I'd say... yes! Bertemu teman-teman baru, cerita baru, naskah novel baru yang harus segera dituntaskan, ide-ide naskah yang sudah tak sabar untuk ditulis, pekerjaan baru yang berhubungan dengan proyek masa depan hidup saya, so many good things around, Alhamdulillah!
 
Ah, bahkan, dalam hari-hari terburuk pun, selalu banyak hal-hal baik yang menghampiri: kesehatan 24 jam, perlindungan dalam perjalanan, senyuman dari seseorang asing, obrolan singkat dengan teman lama, dan Allah yang tak pernah lupa.
 
Sampai jumpa di postingan berikutnya.
 
-Alvi Syahrin-

Dear teman-teman yang memiliki mimpi sebagai penulis novel, seringkali meluangkan waktu untuk membaca,
 
Goodreads Indonesia Regional Surabaya sedang mengadakan event "Novel Remaja dan Dunianya". Melalui postingan ini, aku ingin mengundang teman-teman yang sedang berada di Surabaya untuk menghadiri acara ini. Insya Allah, akan ada ilmu yang teman-teman bawa pulang saat acara berakhir; akan ada semangat yang semakin membara untuk mengejar cita-cita sebagai penulis; akan ada pertemanan yang mungkin terbentuk.
 
Jika kalian luang pada Minggu, 31 Mei 2015 pukul 19.00, yuk bertemu di KAYA Resto & Coffee Holix (Jl. Raya Jemursari 144 Surabaya).
 
Sampai jumpa!
 
-Alvi Syahrin-



Tadi, secara tiba-tiba, sepupu tanya, "Do you have anyone who wants to sacrifice for you?"


"Anyone" yang dia maksud adalah teman.


Sempat terdiam lama. Berpikir panjang. Dan, ketika jawaban ditemukan, rasanya susah sekali untuk dilontarkan... because it was a no. "I don't think I have one," jawab saya, khawatir.

But I do have friends. Good friends. And I'm so glad to find them. They help me a lot, all the time, however, saying that they can "sacrifice" for me like his theory is too far. (I never forget their kindness, though.)

In my opinion, sacrificing is a really big thing.

Lalu, dia mengingatkan kepada saya bahwa betapa saya butuh those (or, at least, one) who want to sacrifice for me because he sees me, like, alone. Like, I don't have any relation.

But I do.

I just don't really share those kind of things to people.

But he still thinks that I need someone who can sacrifice for me due to something that I can't share here, "Because you can't depend on your parents, they don't last forever," tambahnya.

Yes, I see. Saya mengangguk. Dalam hati bergumam, "But we also can't depend on our friends who can sacrifice for us. They are just people. They don't last forever, as well."

Truth to be told, in my life, I rarely ask for a help. Bahkan kepada orangtua (we have good relationship, though). Semampu saya, saya selalu berusaha mengerjakan segalanya sendiri. Jikalau pun butuh bantuan, saya berusaha untuk tidak terlalu merepotkan mereka karena saya selalu merasa sungkan untuk meminta tolong. Berlaku pada keluarga maupun teman.

Namun, pertanyaan sepupu saya membuat saya berpikir panjang sekali. Sedih juga melihat kenyataan saya tidak memiliki someone who wants to sacrifice itu. But I kept saying that I have family, and even though I have my own "life" at home, I can still share everything to them. Or can it be my wife, later? Or...

I don't know...

Pikiran saya berkelumit saat itu.

Out of the blue, it was like the very fresh air came into my lung.

Pemikiran-pemikiran yang membuat saya sedih itu hanya berlangsung beberapa menit, mereda, karena, kemudian, saya ingat: Saya punya Allah.


Allah yang mengatur segalanya.

Segala benda di langit, pergantian siang-malam, pergerakan planet-planet di orbitnya agar tidak saling bertabrakan, sistem dalam tubuh manusia yang kompleks--itu semua Allah yang atur. (Tidak mungkin, kan, benda-benda langit itu bekerja sendiri. Bahkan mesin canggih di dunia ini pun butuh pencipta; manusia. Dan, menyalakannya pun, butuh manusia untuk menekan tombol on. Masa hal rumit seperti yang disebutkan tadi dapat bekerja sendiri.)

Pun manusia.

Manusia milik Allah.

Tentang apa yang akan terjadi, kita bahkan tidak tahu.

Tentang siapa yang akan menolongmu, whether it's a small thing or a big thing, itu kehendak Allah.

Relying on people won't help anything. However, being nice to everyone is a must. Having friends is also a must because we can't live alone. The thing is: kita nggak bisa mengharapkan/bergantung pada manusia yang nyatanya sacrifice for us. They don't last forever, too.

Kita hanya bisa bergantung kepada Allah. Cukup bergantung kepada Allah, dan tinggal menunggu bagaimana Allah membantu kita. Manusia adalah sarana, but we need to say thanks sincerely and stay nice juga.

Jadi, saya setir prinsip saya: it's not looking for people, it's about keeping those as your friends and being nice to everyone, tidak mengharap kembalian yang setara. Masalah bergantung hanya kepada Allah.

Perbicangan belum benar-benar berakhir antara saya dan sepupu.

Kami naik tangga. Saat saya hendak masuk kamar, dia bilang, "You need to give no matter how small it is, so you can receive." What goes around comes around, begitu maksud dia, itu intinya dia sedari tadi.

Oh. Okay. He said "sacrifice" like it was a big thing...
Saya bilang, "Kalau gitu, then I did. I do. But, still, thank you for telling me this."

Saya sungguh-sungguh berterima kasih karena bila dia tidak bertanya demikian, saya tidak akan berpikiran sejauh ini.
Dia duduk di ruang tengah, bersiap nonton Running Man. 

Saya masuk ke kamar, menutup pintu dan tersenyum. Dalam hati bersyukur, "Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah, sudah mengingatkan hamba mengenai ini."
Saya tidak perlu sedih dan takut lagi.

Lalu, saya berkata kepada diri sendiri, "Yang harus saya lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi hamba yang sacrifice kepada Allah."


*kemudian teringat betapa banyak hal yang perlu diperbaiki lagi dalam diri ini*

-Alvi-

sumber gambar: devianart.com


Selama ini, saya takut menceritakan dan membagikan mimpi-mimpi yang saya idamkan di media sosial.

 
Semuanya selalu saya sembunyikan, saya tutup-tutup rapat, dan, rencananya, akan saya bagikan ketika sudah sukses saja nanti. Hal-hal semacam ini hanya saya bagikan kepada beberapa orang terdekat, sekaligus meminta doa dari mereka.

Karena saya khawatir... bagaimana bila saya sudah bercerita panjang lebar tentang mimpi saya dan betapa optimisnya saya, namun, ujung-ujungnya, saya gagal?

Saya khawatir.

Dan, malu.

Baru-baru ini, saya punya mimpi yang sungguh-sungguh saya perjuangkan. Saking benar-benar menomorsatukan mimpi ini, saya berusaha sebaik-baiknya, sampai-sampai saya berpikir, "Kalau nggak berhasil, harus ngapain lagi?"

Kenyataannya, saya nggak berhasil.

Tetapi, nggak apa-apa. :)

Saya selalu percaya Allah punya jalan yang lebih baik, dan saya sudah menemukannya. :)

Jadi, saya bermimpi untuk melanjutkan studi saya di luar negeri lewat jalur beasiswa. Merit-based scholarship. Yes, I know how hard it is, tapi kunci saya adalah Allah. Saya percaya bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Saya perbanyak memanjatkan doa jelang pengumuman. Meminta doa dari Ayah dan Ibu.

Sampai hari pengumuman...

... saya tidak diterima.

Saya sempat simpan kabar ini beberapa hari karena khawatir, takut, malu.

Beberapa hari kemudian, saya cerita ke orangtua. Lalu, sudah. Though I've been told to face something I never want to face anymore because that's not me, I've tried that before, and I didn't like it for some reasons.

Sekarang saya mencoba beasiswa lain. Meminta doa yang sama. Dan, sampai ini ditulis, saya belum mendengar pengumumannya. Jujur, karena masalah teknis, saya agak ragu apakah saya akan diterima. Tetapi, tetap, saya percaya kepada Allah. Bagi Allah, tidak ada yang tidak mungkin.

Namun...

Ada yang berubah dari saya semenjak kegagalan itu. Tidak, saya bukannya lebih murung, bukannya lebih sedih atau sering mengeluh. Tidak. Saya tetap berpikir positif.

Namun, ada yang berubah.

I feel like I am not good as I was yesterday. Before the announcement.

Dan, ini bikin saya sedih.

Setiap hari saya merenungi ini. Saya tahu itu salah. Tetapi, nggak pernah berefek. :(

Maka dari itu, saya menuliskan ini.

Untuk diri saya sendiri. Berharap renungan ini berefek.

Sebenarnya, tujuan saya di dunia ini apa sih? Cuma untuk beasiswa dan karir yang "aman" di masa depan? Berkali-kali, saya harus ingatkan diri, harus tekankan ke dalam pikiran: bukan dunia yang harus saya cari, tapi akhirat. Di dunia ini, saya memang harus berusaha untuk keberlangsungan hidup saya. Namun, akhirat tetaplah lebih penting. Pengalaman belajar di luar negeri, uang yang didapat di kemudian hari--itu semua tidak dibawa ketika mati. Bahkan, sebelum mati pun, tak ada yang bisa menjamin kekayaan kita. Hari ini, mungkin kita punya miliaran, tapi siapa yang bisa menjamin uang itu bisa bertahan di hari esok, lusa, bulan depan, tahun depan?

Percuma mengejar dunia.

Saya harus menyetir hati ini supaya lebih akhirat-oriented. Tetap berusaha menjadi hamba Allah yang tetap kuat imannya, tetap bersemangat dalam menjalankan perintahnya.

Tetapi, karena kegagalan ini, saya nggak boleh berhenti mencoba di dunia ini. Saya hanya nggak boleh kebablasan dalam mengejar dunia. Saya harus terus berusaha, dengan akhirat menjadi nomor satu di hati.

Saya selalu ikhlas dengan keputusan Allah. Saya percaya Allah pasti kasih yang terbaik.

Saya masih ingat ketika baca email penolakan, saya tersenyum, mengangguk, dan percaya Allah punya sesuatu yang jauh lebih baik.

Saya juga nggak boleh lupa ini: nggak semua balasan itu dikasih di dunia ini, masih ada akhirat.

Saya juga harus mengorek-ngorek lagi... kesalahan apa yang masih sering saya lakukan, dan berusaha untuk memperbaikinya.

Pada akhirnya, tujuan hidup ini adalah untuk kembali lagi. Ini tentang bagaimana caranya saya kembali dengan baik.

Dan, tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai..., saya tidak akan menyerah. Malah, kegagalan ini membuat saya menemukan mimpi-mimpi baru untuk dikejar:

1. Menciptakan pekerjaan baru. Yes, I don't apply for a job, but I create one. Dulu pernah, sih, walau gagal--dan, sudah tahu kenapa gagalnya, and I won't do the same mistakes anymore. Beberapa bulan ini, saya belajar banyak tentang internet marketing serta hal-hal teknikalnya dan mendapati bahwa ini cocok buat saya. Tipikal pekerjaan yang saya nyaman kerjakan. Berhubungan dengan tulis-menulis juga. Buat kamu yang sedang mengejar beasiswa atau suka traveling, ditunggu ya! Saat ini sedang mempersiapkan websitenya. Yang beasiswa dulu yang dikerjakan (because I met a lot of cool people who are admitted to one of the best universities by scholarship). Kalau pengin ikutan, please let me know. :D

Rencananya, ingin selalu share tentang ini di sini, sih. Biar semangat.

Mengenai penghasilan, itu bakal datang setara dengan usaha kita--jadi, nggak perlu takut. Baca-baca pengalaman mereka yang melakukan ini juga sepertinya sangat menjanjikan--karena mereka sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, Allah sudah atur semuanya. Sama sekali nggak boleh meragukan Allah. Harus tetap percaya. :)

Dan, akhirat tetap harus nomor satu.

2. [TETAP] Lanjut studi master di luar negeri lewat scholarship. Masih ingin Saudi Arabia. Tetapi, kali ini, ingin mencoba peluang lain dan berdoa kepada Allah agar mendapat tempat yang terbaik; yang membuat saya bisa mudah menemukan makanan halal, menemukan masjid, pengajian rutin yang berlandaskan Al-Quran dan Hadist. Allah tahu tempat yang terbaik. Allah pemilik dunia ini.

3. WRITING NEW NOVELS! Ini nih yang harus saya syukuri. Betapa Allah sudah memberikan saya kemampuan untuk menulis dengan baik, kok saya seolah menelantarkannya? Saya nggak boleh menyia-nyiakan ini. Saya akan tetap terus menulis. Dan, saya juga sudah menemukan "sesuatu" yang, insya Allah, dapat membedakan karya saya dengan karya penulis lain. It's gonna be different from my previous novels.

Dan, meskipun saya belum dapat beasiswa itu, saya dapat hal-hal menyenangkan:

1. Skor TOEFL yang sudah mencapai batas requirement untuk mendaftar di sebagian besar scholarship di seluruh dunia, insya Allah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

2. Saya menemukan ide untuk menciptakan pekerjaan baru, seperti yang saya sudah tulis di atas di nomor satu. Lumayan kan untuk ditulis di CV, hehe. Alhamdulillah. Ini semua terjadi karena kehendak Allah.

3. Volunteerly teaching English at Rumah Bahasa Surabaya. Ketemu teman-teman baru, pengalaman baru, senang banget! Alhamdulillah.

4. Kesehatan, umur panjang, perlindungan, dan banyak lagi. Alhamdulillah.

***

Setelah menulis ini, rasanya lebih lega.

Hari ini, mungkin saya menulis tentang daftar mimpi saya.

Beberapa hari kemudian, atau berbulan-bulan ke depannya..., itu bisa jadi akan tercapai. Dan, postingan ini akan menjadi semacam kenangan yang saya senang untuk baca ulang.

***

Dear Alvi, please change to be a better person. Besok harus bisa mengejar target "itu", ya!

***

=Alvi=
Embassy English Centre, Surabaya: small, cozy, superb design.
I am taking an English course. Again. At Embassy English Centre, Surabaya.

Everything was started when I had this dream—I have this dream. This is not a new dream: it has been on my mind, so long, but it seems so far, out of reach, I do not think I can make it. Even so, out of blue, I decided, "I am going to make it happen."

First of all, this dream requires me to have strong ability in English. The score of TOEFL has been set and I have to pass it.
Do I?
Nope. Not yet.
The last time I took a TOEFL Paper-Based-Test test I got only 510 of 677 (approximately 63 of 120 for internet-Based-Test). Not really bad, still it is under the requirement.
It was two months ago, by the way.
See, I need twenty two years to hit that score and only in few months I have to increase it like 40 or 60 points for PBT (or 20 for iBT). Besides, TOEFL iBT is expensive, it will be such a waste if I do not pass it.
To me, inshaa Allah, there is nothing impossible. I will make it. I can make it. Everything will be beautiful in time as long as I pray hard and work hard.
So, I came up with this idea: how if I take an English course again?
I asked my family's advice and they supported me. So, yes, I finally registered.
And... I do not regret even an inch of me. I love the class, the room, the learning process. I love speaking English, but I have never been so confident, and in this class I can speak like a native though I know I am not! At all!
I am currently on Foundation class which helps me the basic of writing. It requires twelve meetings before the TOEFL preparation class. I have been on eighth meeting--it is an intensive class.
In order to pursue this dream, I also learn my third language: Arabic.
Since long time ago I want to be able to speak Arabic. However, to be honest, the feeling is not that "big", I could not feel the urge even though I know I have to.
How does it feel to learn new language?
It feels great and exciting! When I attended the first class, I thought about learning other languages again because this is addicting. Then, I thought about Spain and Japan.
Okay, put them aside first owing to the desire of being master in English and Arabic.
And, what is really weird about learning language: while I learn my second languange, English, I think a lot in my native language, Indonesian; while I learn my third language, Arabic, I think a lot in my second language.. Confusing, no; complicated, yes.
Back to the title, what is the dream I am pursuing right now?
I am not going to tell. :P


*pic credit: Embassy English Centre, Surabaya.

Sudah lebih dari setahun Swiss terbit dan saya belum menerbitkan novel lagi.

Well, sebenarnya, saya yang lama dalam "memulai".

Setiap memulai naskah baru, saya harus punya stok bacaan baru, eksplorasi sana-sini karena saya butuh meningkatkan kualitas tulisan--meskipun ide sudah siap.

Saya berusaha mencari sesuatu yang berbeda dari naskah-naskah sebelumnya (entah itu isi cerita, tokoh dan latar belakangnya, gaya menulis--saya selalu suka mencoba gaya menulis b...aru, yang mana masih ada "saya" di sana, dan itu selalu menyenangkan).

Setelah itu, saya akan mengonsep apa yang akan saya tulis melalui outline; bagaimana para tokohnya, bagaimana aura naskahnya, bagaimana gaya menulisnya, mempertimbangan masukan-masukan dari novel sebelumnya, dst, dst.

Setelah semua konsep kuat, baru saya akan mengeksekusinya melalui tulisan, and it takes time.

Intinya adalah saya selalu berharap menghasilkan tulisan yang memuaskan, baik untuk saya dan pembaca kelak.

Bocorannya, pada artikel ini --> http://gagasmedia.net/atikel-buku/36-articles/1307-widyawati-oktavia-saat-yang-tepat-mengakhiri-stpc, disebutkan beberapa seri milik GagasMedia.

Nah. Naskah ketiga saya ada di salah satu seri tersebut, ada yang bisa tebak apa?


Seri GagasMedia yang ini, buat saya sangat spesial, karena ini lebih dari sekadar sebuah novel... dan banyak karena-karena lain yang akan saya share nanti selepas rilis.


Saat ini, redaksi sedang mengonsep covernya.

Insya Allah, coming soon. Mohon doanya.

-Alvi Syahrin-

Courtesy of Twitter
تقبل الله منا ومنكم
May Allah accept it from you and us.
Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian.
Happy Eid-al-Fitr!
Masjid Quba in Madinah. Taken from Google.
Once I thought it would be fun if we live right next to Masjid.

You won't be late. You won't be lazy since there is no more those hundreds steps.

That night I started walking toward somewhere, I heard the sound of iqama, out of blue this hadith was recalled in my mind,

"Whoever purifies himself in his house then walks to one of the houses of Allah in order to perform one of the duties enjoined by Allah, for every two steps he takes, one will erase a sin and the other will raise him one degree in status."

My heart warmed as if the candle were lighted in it. I told myself, "Hey, isn't it fun to walk toward Masjid in hundreds steps?"

"You have mistakes. A lot of mistakes. This is the way to clean it up. The way to clean it up."

I smiled at the moment. I knew it I need those hundreds steps. I need it so. Every step is counted.

-Alvi Syahrin-
It's going to be short, karena ini hanya masalah teknis penulisan di Microsoft Word.
Sepele, tapi berpengaruh pada efisiensi waktu.
Saya ingin tahu, setiap kalian hendak membuat bab baru, apakah kalian masih meng-enter secara manual? Enter, enter, enter, sampai muncul halaman baru?
Coba bayangkan: tulisanmu telah selesai dan kamu perlu memperbaiki beberapa bagian.
Beberapa kalimat yang perlu ditambahkan di awal kalimat, beberapa adegan yang perlu dihapus di bagian pertengahan, dan lain sebagainya.
Bukankah itu "mengganggu" enter-enter yang telah kamu lakukan?
Nah, untuk menghindari hal semacam itu, berhentilah melakukan enter untuk membuka halaman baru. Saat kamu telah mencapai penghujung babmu, klik "Page Break".
Sebagaimana namanya, fungsi Page Break digunakan untuk mem-"break" halaman sisa, lalu membuka halaman baru.
Di Word 2007, Page Break terletak pada menu insert, seperti gambar di atas (source pic: http://www.baycongroup.com/word2007/05_word2007.html)
Sekali kamu mengklik Page Break, kamu nggak butuh lagi enter-enter, kamu nggak butuh lagi memperbaiki bab-bab yang berada di halaman yang salah. Bahkan jika kamu melakukan edit sana-sini, fungsi Page Break akan meletakkan posisi bab barumu di tempat yang tepat.
Selamat mencoba.
--Alvi Syahrin--

Saya selalu senang bisa berbincang dengan kalian.

Saya selalu suka membaca pesan-pesan dari kalian; komentar kalian tentang novel saya, pertanyaan, "Kapan novel baru terbit?", pernyataan, "Bocorin cerita di novel baru dong," semangat, "Keep writing ya!", apa pun itu saya senang. Melalui e-mail, mention Twitter, inbox Facebook, even ask.fm.

Saya bukan orang yang punya banyak teman, tapi membaca pesan-pesan dari kalian membuat saya merasa bahwa saya punya banyak sekali teman di luar sana.

And I always want to talk and share with you.

Dan saya ingin mewujudkannya.

Jadi, saya ingin mengumpulkan alamat e-mail kalian, menyimpannya ke dalam satu folder terbaik di e-mail saya.

Nah, melalui e-mail nanti, saya akan mengabarkan hal-hal seputar novel saya. Cover, blurb, behind the scene, tanggal terbit. Pokoknya, once it's done, kalian adalah orang pertama yang akan saya kabari, secara eksklusif, akan langsung saya kirim ke alamat e-mail kalian. Begitu pula jika ada giveaway maupun event-event menarik, kalian tidak akan ketinggalan, insya Allah. :)

Untuk beberapa saat ke depan, melalui e-mail, saya juga ingin menanyakan kalian terhadap hal-hal yang berhubungan dengan penulisan novel saya. Mungkin saya akan mengajukan beberapa pertanyaan, menanyakan pendapat, sharing some stuffs, dan saya selalu ingin membaca jawaban kalian. Saya selalu suka mendengar jawaban kalian. Selalu. :)

Buat kamu yang sudah memiliki Dilema dan Swiss, di sana saya mencantumkan alamat e-mail saya, di halaman profil penulis, paling belakang.

Kamu cukup perkenalkan namamu lewat e-mail, boleh tambah sapaan 'halo' atau 'aku ikutan ya' atau apa pun yang menyatakan bahwa kamu ingin ikutan ini. Nanti, saya akan membalas dan menyimpan kontakmu.

Untuk kamu yang dulu sudah pernah meng-email saya, kalian tidak perlu mengirimkan e-mail ulang karena saya sudah menyimpan semua alamat e-mail kalian. Kalau-kalau mau kirim ulang, juga nggak apa-apa.

I'm waiting for you on my mail box.

I can't wait to send you a message.

Terima kasih.

--Alvi Syahrin--