Berbicara tentang rumah tangga, saya selalu membayangkan roller coaster.
 
Kala roller coaster mulai berjalan, keraguan muncul hingga hatimu bergumam, "Apakah ini akan baik-baik saja?"
 
Saat roller coaster menukik menuju puncak, ketakutan datang hingga hatimu bertanya, "Apakah ini yang disebut menyesal?"
 
Kemudian roller coaster melandai dari puncak tertinggi dengan kecepatan tertinggi, membuatmu berteriak kencang, sekencang-kencangnya, menyesal, merutuki mengapa kau memilih semua ini, bertanya-tanya kembali tentang keputusan yang telah kau buat.
 
Namun, ketika roller coaster tersebut telah kembali pada jalur normalnya, kau tertawa dan berkata, "It's worth the fight."
 
Kau merasa tenang beberapa saat.
 
Lalu, wahana itu berputar lagi, mengulang rasa-rasa itu: meragu, takut, bahagia, lepas,
 
dan... tenang.
 
Saya percaya bahwa kehidupan rumah tangga tak akan selalu berjalan mulus--dan, kita semua setuju tentang itu. Akan ada highest point saat kau sungguh-sungguh bahagia dengan pilihanmu dan lowest point saat kau merasa ini berada di tepi jurang. Saya tidak takut, it's price you have to pay. Lagi pula, semua rumah tangga pasti mengalaminya.
 
Namun, saya penasaran tentang bagaimana caranya bertahan. Saya juga penasaran tentang detail-detail kecil, seperti, "Apa yang terjadi setelah proses ijab qabul antar kamu dan pasanganmu?", "Apa yang terjadi dan harus dilakukan saat pertengkaran pertama?", "Apa yang perlu kita lakukan agar pasangan kita selalu senang bersama kita?", "Bagaimana perasaan memiliki anak kedua? Bagaimana kita menjaga perasaan sang kakak?".
 
Banyak sekali.
 
Hingga suatu ketika, saya menemukan gambar ini di linimasa Facebook.
 
 
 
Sampul dan judulnya menarik hati saya. Sebuah gambar rumah sederhana, dengan asap. Itu, menjelaskan segala hal tentang rumah tangga.
 
Terlebih lagi, penulisnya adalah Fahd Pahdepie. Saya tak akan menjelaskan tentang beliau di sini karena kau dapat menemukannya di Wikipedia.
 
Hal yang terbaik tentang sampul buku itu: saya dapat membukanya dan membaca isinya.
 
Saya selalu mengagumi kisah-kisah sederhana, yang menyelipkan sebuah pesan baik, yang membuat saya berpikir dalam, merenung, lalu tersenyum, dan bergumam, "Ah, iya!"
 
Saya menemukan semua itu di buku ini, termasuk detail-detail kecil yang ingin saya sampaikan di atas tadi.
 
Saya akan memberi tahu kepada kalian, tujuh alasan mengapa saya menyukai buku ini...
 
dan, tujuh alasan yang bisa jadi membuatmu menyukai buku ini juga. 
 

1. Rumah Tangga ditulis dengan gaya bahasa sederhana, namun menyihir.

Saya adalah tipikal pembaca yang lumayan terbuka dengan gaya menulis apa saja. Malah, itu sebuah kebutuhan. Ketika telah banyak membaca buku dengan kisah dan gaya bahasa ringan, saya akan memilih buku yang lebih berat baik dari kisah dan gaya penulisan. (Tentu, "ringan" dan "berat" versi saya).
 
Rumah Tangga is something in between. Pemilihan kata dan penyusunan kalimat-kalimatnya sangat membumi. Namun, di saat yang sama, kata-kata sederhananya itu membentuk sesuatu yang ajaib.
 
Ya, ajaib.
 
Saya bukan pembaca paling baik dalam berimajinasi. Namun, ada satu bagian dari buku ini yang membuat saya dapat menyaksikan langsung adegannya. Yakni, saat penulis bercerita masa kecilnya. Sang penulis berkata pada ayahnya bahwa dia ingin layang-layang.
 
Ayah menyetujui keinginannya. Namun, ayahnya bertanya kembali, "Kamu tahu bagaimana cara menerbangkan layang-layang?"
 
Sang penulis menggeleng.
 
Maka, ayahnya berkata bahwa beliau akan mengajarkan mencari angin, mengajaknya ke sawah untuk menerbangkan layang-layang bersama-sama, memegang benang bersama-sama, lalu, bersama-sama, melihat layang-layang itu terbang ke angkasa.
 
Setelah mereka lelah bermain layang-layang, ayahnya berkata,
 
"Fahd, mudah-mudahan ini sederhana, dan kamu akan selalu mengingatnya.
 
Kelak, jangan bercita-cita membeli rumah untuk istrimu, bercita-citalah untuk tinggal bersama dan hidup bahagia, selama-lamanya,
 
Jangan bercita-cita memiliki kendaraan mewah untuk anak-anakmu, berdoalah agar kalian bisa pergi bersama-sama, bertamasya, atau berbelanja dengan bahagia."
 
Kata-katanya sederhana sekali, tapi mendarat dengan tepat di tujuan: hati.
 
Saya sudah tersihir sejak sang penulis menceritakan tentang bermain layang-layang itu.
 
Kelak, saat kau membacanya, mungkin kau akan merasakan sensasi yang sama. Atau, sensasi yang berbeda, dengan cara yang lebih baik.
 
Sekadar informasi, sebenarnya kutipan itu masih ada lanjutannya. Tak akan seru bila dibeberkan semuanya.
 

2. Rumah Tangga diangkat dari kisah nyata.

Sejujurnya, saya tidak begitu tertarik membaca kisah yang didasarkan dari kisah nyata. Tetapi, kadang, kita butuh melihat sesuatu yang nyata untuk mendapat jawaban sesungguhnya, kan?
 
Kita bisa menulis fiksi tentang rumah tangga dengan alur dan gaya menulis yang luar biasa. Tak lupa juga dengan akhir bahagia. Tetapi, kisah nyata tidak selalu begitu,
 
dan, itulah yang ditawarkan buku ini.
 
Realistis.
 
Kita dapat melihat secara langsung "momen sendiri" sang penulis beberapa menit sebelum berlangsungnya pernikahan. Ikut merasakan dag-dig-dug sebelum mengucap ijab qabul (untuk para laki-laki), ikut menjawab pertanyaan para wanita yang bertanya, "Apa yang laki-laki pikirkan beberapa menit sebelum mereka memutuskan hidup selamanya bersama kami?"
 
Saya punya satu pertanyaan, "Bagaimana, ya, hati seseorang yang telah berumah tangga? Bagaimana rasanya menjadi seorang suami? Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah?" Saya berpikir ini pasti sulit, ada tanggung jawab besar di baliknya. Baik di dunia maupun akhirat.
 
Namun, di buku ini, saya belajar...
 
Kadang-kadang, kita perlu menikmati alurnya saja, seperti saat berada di roller coaster,
 
but always take it seriously.
 
Saya pun belajar tentang beberapa tanggung jawab; yang belum saya temukan sebelumnya dari pembelajaran saya tentang rumah tangga.
 

3. Rumah Tangga mengangkat fenomena masa kini, yeng membuat kita jadi bertanya-tanya, "Mana, ya, yang benar?"

Di linimasa Facebook-mu, kau pasti pernah menemukan artikel Ibu-Tinggal-di-Rumah VS Ibu-Mengejar-Karir.
 
Dalam kepercayaan saya, rida suami terhadap istrinya adalah segalanya. Hal-hal yang dilakukan istri harus berdasarkan izin suami, karena suami juga bertanggung jawab terhadap istrinya. Correct me if I'm wrong. Maka dari itu, jika kau adalah laki-laki dan ditanya, "Istrimu harus bekerja atau tinggal di rumah?", kau tidak dapat serta-merta berkata, "Itu pilihan istri saya. Terserah dia." Kau adalah penganggung jawabnya, kau harus punya alasan kuat pula pada pilihan istrimu.
 
Kau juga tak dapat menentukan pilihan istrimu begitu saja. Harus selalu ada alasan kuat. Dan, komunikasi yang dilakukan baik-baik dengan istri. Hingga menghasilkan kesepakatan bersama, supaya tak ada yang tersakiti. Correct me if I'm wrong.
 
Dan, saat membaca bab tentang Ibu-Tinggal-di-Rumah VS Ibu-Mengejar-Karir yang tertulis dalam buku ini, saya senang sekali ada yang menyuarakan pendapat ini. Buku ini menjawab keresahan yang terjadi antar dua golongan itu. Sang penulis juga memberikan contoh nyata yang berkaitan perihal ini.
 
Rasa-rasanya, saya ingin menunjukkan apa yang ditulis dalam buku ini kepada mereka yang masih berdebat soal ini.
 
Dan, saya yakin... sebagian laki-laki yang membaca bagian ini pasti akan termenung lama, dan, pelan-pelan, mengangguk setuju.
 
Sementara itu, sebagian perempuan yang membaca bagian ini pasti akan hangat hatinya.
 
*
 
Kebetulan, saya punya kawan yang bertanya, "Apakah perempuan harus benar-benar mengikuti pilihan suami?"
 
Saat itu, saya bilang, "Kalau itu pilihan yang benar, maka iya."
 
"Tetapi, aku rasa, komunikasi selalu dibutuhkan, nggak bisa satu arah," tambah saya, kurang-lebih begitu.
 
Saya jadi ingin menunjukkan bab ini kepadanya.
 

4. Rumah Tangga terasa seperti tulisan dari seorang senior yang telah menikah untuk para juniornya, juga kawan-kawan seangkatannya, untuk belajar bersama.

Dari judulnya, saya pikir buku ini akan lebih cocok bagi mereka yang telah menikah. Namun, saya yang belum menikah mendapat banyak masukan dari sang penulis. Tanpa kesan menggurui. Sedikit pun.
 
Apa-apa yang telah saya tulis di atas sudah jadi "cuplikan" dari pelajaran hidup yang didapatkan di buku ini.
 
Sebenarnya, masih banyak lagi.
 
 
 

5. Rumah Tangga memiliki, minimal, satu bagian yang akan menyentuhmu secara personal

Salah satu sebuah buku disukai adalah karena ia memiliki personal touch. Untuk kau yang memiliki banyak pertanyaan tentang kehidupan rumah tangga, maka personal touch dari sang penulis akan menyentuhmu, di beberapa bagian.
 
Ada satu bab dari buku ini yang benar-benar menyentuh hati saya.
 
Bab "Teladan dari Ayah".

Bab itu bercerita tentang mimpi ibu sang penulis yang ingin berhaji bersama suami. Namun, keadaan keuangan keluarga membuat mimpi ini menjadi ketinggian.
 
Beliau harus realistis. Menunda mimpi. Dalam penantian itu, ada satu momen ketika beliau harus berusaha ikhlas terhadap sesuatu yang amat sangat menyakitkan. Saya pun bisa merasakannya.
 
Sakit sekali, dan sedih...
 
Beliau sampai bilang, "Jika Ayah bisa memberangkatkan Ibu ke Mekah, Ayah boleh menikah lagi..."
 
Saking mustahilnya mimpi itu.
 
Saya juga punya satu mimpi yang tampaknya ketinggian. (Tetapi, saya percaya tak akan ada yang ketinggian bagi Allah; segalanya mungkin terjadi). Sama-sama berhubungan dengan Saudi Arabia. Saya tidak ragu dengan mimpi ini. Tapi, siapalah saya... hanya manusia yang bahkan memastikan apa yang terjadi satu detik kemudian secara akurat, saya tak mampu. Saya pun berusaha ikhlas jika mimpi ini tidak tercapai. (Won't give up, though). Dan, kadang, saya sedikit sedih membayangkannya. Tapi, saya ikhlas.
 
Lalu, akhir dari kisah ibu ini membuat saya tersenyum. Dan, semakin semangat terhadap mimpi itu. Dan, semakin percaya. (Sama-sama berhubungan dengan Saudi Arabia, soalnya).
 
Bahwa, ada beberapa mimpi yang perlu dirawat. :)
 
Lalu, apa hubungannya dengan rumah tangga?
 
Kau akan menemukannya di paragraf terakhir bab ini. Something that will make you smile.
 

6. Kisahnya yang sederhana--mungkin kau pernah/akan mengalaminya

Kisah cinta di novel ini bukan kisah rumah tangga yang dramatis, yang membuatmu hatimu jumpalitan kala membacanya. Segalanya serba sederhana, dan itu membuatnya terasa dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Seakan kau pernah/akan mengalaminya.
 
Mulai dari keragu-raguan orangtua saat anaknya memutuskan menikah, kesangsian orangtua terhadap pilihan anaknya (serta ketidaksetujuan mereka), nasihat-nasihat ayah, pertanyaan dari seorang istri tentang poligami, momen-momen sederhana bersama keluarga baru.
 
Omong-omong, ada satu bagian yang saya suka sekali dari buku ini.
 
begini, jadi, melalui sebuah bab tentang kilas balik keluarga sang istri, penulis seolah bertanya, "Mengapa orangtua yang tidak sempurna itu ada?"
 
Jawabannya pun sederhana: karena kita pun bukan anak-anak yang sempurna.
 
Kesederhanaan ini membuatnya spesial.
 
 
 

7. Rumah Tangga adalah sebuah karya yang sempurna karena ia punya semua hal: kelebihan dan kekurangan.

Berdasarkan KBBI, sempurna berarti utuh dan lengkap. Sebuah buku tanpa kekurangan, berarti tidak sempurna, kan? Buku ini pun begitu. Ia sempurna bersama kekurangan dan kelebihannya. Jika ditanya apa kekurangannya--well, ini hanya masalah personal saya saja. Saya adalah tipikal orang yang selalu membutuhkan keakuratan sebuah ilmu. Ketika membaca sedikit kisah-kisah sejarah Nabi, saya butuh keautentikannya/sumber yang dapat dijadikan pegangan. Agar saya dapat percaya. Pasalnya, ilmu saya masih sangat minim, dan saya ingin selalu mendapatkan sumber yang benar. Ini hal yang penting buat saya. (Ini bukan kekurangan jika cuplikan kisah Nabi di sana ternyata terbukti benar.)
 
Terlepas dari itu, buku ini sudah memasuki level "saya menyukainya!", dan ketika saya menyukai sebuah buku, saya akan fokus pada kelebihannya. Dan, kelebihan buku ini? Tujuh alasan ini sesungguhnya tak cukup,
 
jika kau sudah membaca buku ini, coba tambahkan satu alasan mengapa kau menyukai buku ini di kolom komentar.
 
Dan, saya juga ingin tahu: apa yang kau pikirkan tentang rumah tangga?
 
 
 
*
 
Sampai jumpa di post berikutnya!
 
--alvi syahrin
 
Dulu, saat menyusun kalimat pertama untuk novel pertama, saya tak pernah berpikir jauh-jauh, selain:

ini yang saya ingin lakukan, dan saya menikmatinya, sangat;

menjadi penulis adalah impian saya;

setidaknya, saya bisa menghibur pembaca yang ingin lari sejenak dari kehidupan nyata;

tak ada yang bisa menghentikan saya.

Namun, itu semua berubah ketika langkah kaki saya memijaki sebuah toko buku, pada suatu sore, dan menemukan segerombolan gadis-gadis SMP di depan rak novel. Mereka bertiga memandangi rak raksasa itu. Bila ini komik, mungkin kepala mereka akan menunjukkan sebuah tanya,
 "Beli apa, ya?"
 
Saya tersenyum kecil kala itu. Kenyataan bahwa mereka senang membaca melegakan hati saya.

Namun, ketika saya dekatkan langkah dan melirik ke arah mereka, saya merasa sesuatu aneh dalam hati.

Sesuatu yang tidak mengenakkan.

Jadi, begini,

ketika melirik ke arah mereka, saya mendapati raut wajah yang masih kekanak-kanakan. Seperti anak kelas enam SD yang baru lulus. Mungkin baru kelas satu SMP. Sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Baru puber; baru menginjak masa-masa remaja; masa penuh jungkir balik dan kelabilan dalam hidup seseorang.

Saya berusaha acuh tak acuh dan fokus terhadap novel-novel di rak yang sama dengan rak yang mereka lihat juga.

Selagi menyisir pilihan-pilihan buku yang ada, saya mendengar mereka berkisah tentang seseorang yang mereka suka. Mungkin, pacar. Dan, mereka menyebut tentang...

Well, lebih baik tidak saya tuliskan di sini. Petunjuk: Bukan hal besar sebenarnya. Menurut banyak orang, ini sepele, sudah biasa, tak ada apa-apanya.

However, small things always bring you to the big things.

Mereka bahkan masih mengenakan seragam putih-birunya, dengan suara seorang perempuan yang belum matang, berbicara tentang hal yang sudah-terlalu-sering-terjadi-dan-dianggap-wajar-tapi-sesungguhnya-sedikit-terlalu-jauh untuk usia mereka.

Jujur saja, saya tidak tega.

Saya jadi teringat momen ketika linimasa Twitter dipenuhi oleh kicauan-kicauan galau dari para remaja untuk seseorang yang mereka sukai, alih-alih galau terhadap cita-cita di masa depan, pelajaran sekolah yang sulit dipahami, dan hal-hal bermakna lainnya; linimasa Facebook yang dipadati oleh artikel-artikel tentang remaja yang bertindak di luar batas--antara laki-laki dan perempuan--serta foto-foto yang tersebar bebas di internet. Belum lagi, ketika saya mendapati sebuah akun Facebook murid SD kelas 4 (jika tidak salah) yang sudah memiliki pacar (yang juga masih SD), dan menulis berbagai macam status layaknya surat cinta... yang tak pantas untuk seumurannya.
 
Karena terjadinya hal ini, orang-orang berspekulasi: ini karena lingkungan, tontonan tv, musik video dari penyanyi favorit, ini-itu.
 
Dan, kini, mereka berdiri di depan calon novel yang akan mereka bawa pulang. Masih memilih. Mendadak, di waktu yang sama, saya, yang masih 22 tahun, merasa menjadi orangtua mereka. Jika mereka membawa pulang novel yang kini sedang mereka pegang dan perbincangkan, akankah saya membolehkannya?

Mereka hanyalah gadis remaja. Dan, kita semua tahu: saat kita masih remaja, betapa mudah kita terpengaruh oleh sesuatu.

Kala itu, saya ada di sana. Kenyataannya, saya bukan siapa-siapa mereka. Saya bukan tipikal orang yang akan berkata, "Hey, Dek, coba deh baca yang ini saja," pada orang asing.
 
But I feel responsibility to do what's upstanding and right.
 
Jadi, saya bilang kepada diri sendiri, "Saya akan melakukan sesuatu."

Sebenarnya, tepat saat itu, saya sudah menyimpan ide I Love You; I Just Can't Tell You di kepala. Jadi, saya sambungkan pemikiran tadi dengan, "Saya harus segera menuliskan ini."

***

Sebelum bertemu murid-murid SMP itu, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya, sesuatu terjadi dalam diri saya. Sesuatu yang mengubah banyak dalam diri saya. Salah satunya adalah pola pikir. Ke arah lebih baik tentunya, insya Allah.

Masih terpatri dalam ingatan, suatu sore yang masih muda, saya berjalan ke suatu tempat, berpikir tentang dua novel yang telah saya tulis dan terbitkan, Dilema dan Swiss, juga berpikir tentang ide apa yang akan saya tulis berikutnya.

Namun, karena terjadi perubahan dalam diri saya, saya pun mulai bertanya-tanya...

Untuk apa saya menulis? Pemuasan diri untuk menjadi penulis saja? Hanya ingin merasa kesenangan dibaca oleh pembaca? Supaya dapat penghargaan? Supaya best-seller? Atau apa...?

Saya gali terus jawabannya.

Dalam kepercayaan saya, saya percaya akan adanya hari akhir. Hari ketika segalanya harus dipertanggungjawabkan.

And, it really scares me. Hingga hari ini.

Apa yang bisa saya pertanggungjawabkan dari tulisan saya?

And, strike. That was the moment that I wanted to give up.

Namun, saya tetap berdoa, mencari jalan keluar. Diiringi buku-buku yang saya baca, saya menemukan sebuah ide novel.

Ide itu telah mewujud sebuah novel yang bisa kau temukan di toko buku. I Love You; I Just Can't Tell You.
 
novel romance indonesia

 And, strike. This is the moment I don't want stop writing.

Masa-masa pencarian jati diri dalam menulis akhirnya terlewati. It was really, really tough. But I'm happy to make it. Saya telah menemukan bahwa, untuk saat ini, saya ingin menulis untuk remaja, karena...

Simply I want to save them.

Sebab, pernah pula saya melihat langsung pertengkaran antara seorang remaja dengan orangtuanya hanya karena ingin mempertahankan pacarnya, dan betapa sangat menyakitkan melihat itu.
 
Sangat sakit melihat mereka memperjuangkan seseorang yang baru mereka kenali beberapa bulan lalu atau, mungkin, hitungan minggu dengan menentang seseorang yang telah mencintai mereka seumur hidupnya.

I really want to save them.

Saya tidak mau mereka terjebak dalam kisah cinta yang salah. Saya ingin, ketika mereka menutup buku yang saya tulis, mereka akan tersenyum dan berkata, "Ah! This is it!" untuk kegalauan yang sedang mereka hadapi. Anggap saja buku-buku saya kelak adalah suara dari kakak laki-laki yang tak pernah kau miliki dan berharap kau jadi adik lebih baik. Tak akan ada yang tersudut, tak akan ada yang dihakimi.
 
Akan tetapi, ini tidak berakhir begitu saja. Saya sempat meragu atas pilihan ini. Menulis karena ini? Yakin? Sebagian penulis berprinsip bahwa menulis, ya menulis. Tak perlu berpikir keras tentang pesan moral. Biarkan pembaca menemukannya. Sebagian penulis berprinsip menulis untuk memberi manfaat, namun mereka pun sering dikritik karena, jika ingin memberi nasihat, sudah ada mimbar yang bisa mereka isi.
 
Tiap pilihan memiliki risiko. Setelah menguatkan niat dengan susah payah, saya mengambil pilihan dengan risiko dikritik bahwa sudah-ada-mimbar-bla-bla-bla, tanpa rasa takut, karena saya tahu apa yang mendasari pilihan saya.
 
Dan, itu membuat saya damai dalam menulis.
 
Bukankah "damai" juga adalah salah satu hal yang kau cari saat menulis?

Ini juga membuat saya bisa bercerita dari lubuk hati paling dalam.

Bukankah menulis dari hati adalah salah satu hal terbaik dalam menulis?
 
Let me take a deep breath and smile for a second.

Jadi, sekarang, saya sudah menemukan mengapa saya menulis. Kini, ini sudah bukan sekadar eksplorasi bacaan, kata-kata yang menyihir, tapi juga tanggungjawab yang terselip di dalamnya. Dimulai dari I Love You; I Just Can't Tell You, saya akan berusaha untuk tak sekadar memberikan hiburan, tapi juga sesuatu yang membekas saat novel ditutup.

Jika kamu bertanya, apakah naskah saya selalu bertokoh remaja? Tidak juga. Ya, remaja selalu jadi tokoh utama. Namun, untuk menghindari kebosanan, saya juga akan menggabungkan kehidupan SMA dan perkuliahan dalam satu novel--menyesuaikan novel yang ditulis. 
 
Dan, senang rasanya ketika mengetahui ada seorang kakak yang membaca novel I Love You; I Just Can't Tell You, dan berkata langsung kepada saya, "Saya bisa memberikan buku ini kepada adik saya."
 
Saya semakin yakin dengan pilihan ini. Suatu waktu, ini bisa jadi berubah, tapi alasan yang saya mendasari semua ini tak akan berubah, insya Allah.

So,
 
hi, you,
 
yes, you who is currently reading this word,
 
saya memang bukan siapa-siapamu, but I feel the responsibility, and I want to save you...
 
to save me in afterlife.

***
 
"In your life, you'll do things greater than dating a boy on a football team,
 
but I didn't know it at fifteen."
 
***
 
-- alvi syahrin
 

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
1


Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
2
Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
3
 
4
Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
5


6


Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
7

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
8

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
9
Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
10
 
Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
11

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
12

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
13


Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
14

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
15

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
16

Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
17


Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
18


Cerita yang ditulis Daisy Yazawa berhenti sementara di sini, karena...

... halaman berikutnya akan dilanjutkan oleh...


Alvi Syahrin I Love You I Just Can't Tell You
19
 
Jika kamu sudah membaca Dilema dan Swiss, kamu pasti merasakan sesuatu berbeda dari cuplikan di atas. Gaya menulisnya, ya? Sebagaimana kata orang-orang, people change, so do writers. Penulis senantiasa berkembang seiring waktu dan bacaannya. Saya tidak tahu apakah ini sebuah perkembangan. Yang jelas, saya tak mau berhenti pada satu gaya. Saya ingin selalu bereksplorasi dalam tulisan saya, bercerita melalui tokoh-tokoh yang berbeda, menggunakan gaya menulis yang menyesuaikan gaya sang tokoh--alih-alih gaya sang penulis. Karena, begitulah saya belajar menulis--dan memahaminya.
 
Omong-omong, menurutmu, apa sih yang akan terjadi setelah kejadian "fatal" di atas? Share your opinion, I'd love to know!
 
Dan, jika kamu ingin segera membaca kelanjutannya, I Love You; I Just Can't Tell You akan segera singgah di Gramedia, Toko Gunung Agung, dan toko buku terdekat lainnya! Atau, jika kamu ingin jadi pemilik pertama buku ini (beserta tandatangan dan diskon), lihat gambar ini...

 

atau...

Novel Love Cycle Gagas Media


Atau, jika kamu ingin melengkapi seri Love Cycle lengkap dengan diskon dan TTD penulisnya, kunjungi republikfiksi.com.



Kabar-kabar juga jika kamu sudah/akan memilikinya. :D

-- alvi syahrin
 
 
Love Cycle Online Festival adalah sebuah event yang mempertemukan pembaca dan penulis, menempatkan keduanya dalam satu kelompok untuk bertanding pada lomba-lomba yang disiapkan GagasMedia.

Sebelum festival ini dimulai, GagasMedia memberi pilihan kepada peserta: mereka ingin bergabung dalam tim apa? Ada enam tim di festival ini: #TimCintaPertama, #TimPDKT, #TimPacaran, #TimPatahHati, #TimMoveOn, #TimKomitmen. Host dari masing-masing tim adalah penulis yang bersangkutan di siklus tersebut. Karena saya menulis siklus cinta pertama di seri ini, maka saya adalah host #TimCintaPertama. Yoana Dianika, #TimPDKT. Dan seterusnya.
 
Total pendaftar Love Cycle Online Festival melampaui angka 700. Tim Cinta Pertama menduduki peringkat kedua dengan pendaftar terbanyak, dan itu membuat saya harus benar-benar memilah: siapa yang benar-benar berhak diberi kesempatan, siapa yang benar-benar ingin berjuang. Saya dan co-host, Kak Any (editor di GagasMedia) berdiskusi mengenai kriteria kandidat. Alasan yang di-submit pendaftar bukan satu-satunya kriteria.
 
Dari ratusan peserta mendaftar, terpilih 16 peserta untuk enam lomba.
 
1. Playlist Competition
Lomba ini mengharuskan peserta untuk menyusun lagu-lagu, urut sesuai siklus cinta, dan sertakan alasan. Dan, dari banyaknya peserta yang mendaftar, saya memilih...
 
Intan Puspita Arum (@intanamps).
 
Saya mengecek beberapa akun Twitter pendaftar. Intan salah satunya. Intan mencantumkan alamat blognya di bio, dan saya membukanya. Ada satu postingan terbaru di sana. Saya lekas membacanya dan, tepat saat itu, saya langsung berpikir, "Yes, she's the one."
 
Postingan yang saya baca itu adalah sebuah postingan a la Hipwee. Yang memang dia kirimkan untuk Hipwee, tapi ditolak. Tetapi, saya rasa penolakan itu bukan kegagalan. Saya bisa melihat potensi di sana--ada jiwa dalam tulisannya. Sampai hari ini, saya masih ingat "nuansa" tulisannya.
 
Ketika dia diterima dalam tim ini, saya sarankan padanya untuk menyusun playlist layaknya dia menulis postingan itu. Namun, yang terpenting dari segalanya: tulislah senyaman kamu.
 
Dan, pada lomba pertama ini (yang dinilai oleh Indra Wijaya dan Rahne Putri), Intan menang! Alhamdulillah.
 
*
 
2. Lomba Menulis Berantai
Dalam menentukan peserta di lomba ini, saya mengecek blog para calon peserta. Dalam tim ini, saya ingin menyeimbangkan antara mereka yang memang menulis dan senang menulis. Saya ingin memberi kesempatan bagi mereka yang "baru" senang menulis, tapi ada potensi di sana. Di antara beberapa blog yang saya cek, memang ada kesalahan minor seperti EYD. Tetapi, lewat lomba ini, saya ingin kami berkembang bersama-sama. Yang tidak tahu jadi tahu. Yang tahu mengajari. (Sebagaimana yang saya pelajari sewaktu bergabung di Bukune-GagasMedia)
 
Dan, yang terpilih adalah:
 
Ela Sri (@CupyDevil). Di hari pertama, saya jadi tahu kalau Ela gampang sekali mengantuk. Padahal belum pukul sepuluh malam, lho. Pada jelang hari akhir, saya sadari dia yang paling galau soal jodoh. :P
 
Octaviani Nurhasanah (@OctaNH). Memilihnya karena alasan yang dia ajukan--cinta pertamanya adalah cinta terakhirnya. Juga, tulisan di blognya.
 
Biondy Alfian (@biondyalfian). Dia telah menerbitkan satu novel berjudul Remedy.
 
 
 
Sesungguhnya, ada beberapa novelis mendaftar untuk lomba ini. Sayangnya, saya hanya bisa memilih satu karena ingin ini menjadi tim yang "seimbang", yang juga memberi kesempatan bagi mereka yang bermimpi sebagai penulis. Jadi, saya memilih Biondy karena keaktifannya di beberapa sosial media. (Omong-omong, alasan yang dia tulis membuatnya nyaris tereliminasi).
 
Alya Nurfakhira Zahra (@Alyanfz). The youngest member! Dia masih tiga belas tahun, dan tulisan dia sudah keren. Ada potensi dalam dirinya. Sewaktu usia 13 tahun, saya bahkan masih belum tahu cara menulis yang benar. Mudah-mudahan dia bisa menjadi penulis--bila itu yang diinginkannya.

Rajab Al-mukarrom (@RajabAlmukarrom). Tentang bagaimana dia diterima cukup magical, buat saya. Tadinya, dia telah tereliminasi. Sudah ada satu nama yang mengisi posisinya. Namun, karena peserta tersebut tak melakukan konfirmasi, dia terpaksa digugurkan. Rajab adalah salah satu kandidat terkuat saat masa-masa saya memilih kandidat. Jadi, saya tak bingung cari pengganti. Nama Rajab adalah yang muncul kali pertama dalam pikiran saya. Begitulah dia terpilih di tim ini.
 
Hasil lomba Menulis Berantai akan diumumkan besok. Bila ingin membaca, cukup klik tautan "sebelumnya" dari postingan ini: http://www.alvisyahrin.com/2015/05/cinta-pertama-bagian-terakhir.html
 
*
 
3. Cerdas Cermat Twitter
 
Ada dua peserta dalam lomba ini: Arya (Founder of @OhKutipanBuku) dan Dinar (@dinar_arisandy).
 
Cerdas Cermat Twitter bakal jadi lomba paling legend di Love Cycle Online Festival karena seru banget, seperti pertandingan olahraga. Kecepatan dan ketepatan menjawab yang ditanyakan oleh GagasMedia adalah alasan seseorang bisa menang. Dan, tiap tim hanya selisih beberapa detik. Dan, pada Cerdas Cermat Twitter pt. I, Arya dan Dinar berhasil memboyong banyak sekali poin! Seingat saya, mereka berhasil merebut 11 dari 19 jawaban, dan menjadikannya 110 point. Menempatkan mereka sebagai pemenang Cerdas Cermat pt. I.
 
Di balik kemenangan ini, ada banyak sekali screenshoot mengenai info-info novel dari website GagasMedia dalam ponsel Arya dan Dinar. :))
 
Pada pt. II, mereka merebut sekitar dua atau tiga jawaban--itu sempat membuat mereka merasa bersalah. Tapi, saya dan teman-teman #TimCintaPertama sepakat bahwa baik menang maupun kalah, pertemanan ini lebih berarti. Saya juga nggak akan lupa kata-kata Regita, "Hadiah bisa dibeli, tapi kalian? Nggak bisa."
 
Ini salah satu momen terkeren banget.
 
Pada awalnya, hadiah memang tak pernah jadi tujuan saya. Mau menang atau kalah, saya terima. Tetapi, saya tidak boleh egois. Teman-teman #TimCintaPertama datang ke kelompok ini, bisa jadi, karena tujuan yang berbeda. Mungkin ada yang mengharapkan hadiah itu, jadi saya pun tak bisa mematikan harapan mereka. Kami, bersama-sama, berjuang.
 
Namun, jelang akhir #LCOF, mereka sudah menemukan esensi persahabatan dalam #TimCintaPertama. And it's everything.
 
* 
 
4. TTS Facebook
 
Ini adalah lomba dengan pendaftar paling sedikit. Memilihnya pun tak begitu sulit. Mereka adalah Arief Maulana (@ariefmaulan), Regita Ayu Kurniasari (@recirecita), Ade Risti Oktavia (@ade_risti). Kebetulan, saya kenal Arief dan Regita, namun itu bukan alasan saya memilih mereka. Saya berteman dengan Arief di Facebook, dan dia punya pengetahuan yang oke, jadi saya yakin. Regita pernah mengunggah koleksi novelnya, yang membuat saya berpikir, "Dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan novel.". Sementara Ade, saya lupa alasan memilih Ade. Maafkan. Tapi, kamu tak terlupakan, kok.
 
Oya, gambar di postingan ini adalah buatan Arief.
 
Beberapa jam sebelum lomba dimulai, saya membuatkan chat conversation antara Arief, Regita, dan Ade agar memudakan mereka berdiskusi saat berlomba. Daripada mereka harus bolak-balik di LINE. Hasilnya? Alhamdulillah. Mereka menang lagi!
 
Di balik kemenangan itu, ada koneksi Regita yang tidak stabil, ada kesalahan jawaban yang membuat mereka harus edit-mengedit sebelum waktu berakhir, dan diskusi panjang dari teman-teman lain di LINE.
 
Omong-omong, saya sendiri kesulitan mengisi TTS-nya. :|
 
*
 
5. Estafet Tweet
 
Kami punya satu novelis di sini: Cindy Pricilla M (@CindyyPM). Saat dia bergabung (saya kaget waktu tahu!), saya berpikir, "Dia bisa membuat sesuatu yang quotable," begitulah dia terpilih. Ini novel yang pernah ditulis Cindy.
 
 
 Peserta lain yang berada dalam barisan Estafet Tweet adalah Ami (@elburouj), Raza (@Izrazaqile_), dan Nila (@nilakdp). Ami terpilih karena alasannya yang, kata anak jaman sekarang, ngejleb banget. Alasan yang dituliskannya sangat quotable, dan itu dibutuhkan dalam Estafet Tweet. Sementara terpilihnya Raza dan Nila adalah karena keaktifan mereka di tab mention saya. Mereka juga senang membaca, jadi saya memilih mereka.
 
Dan, Alhamdulillah, lagi, #TimCintaPertama memenangkan Estafet Tweet karena memiliki tweet terbanyak dalam waktu 30 menit. Di balik kemenangan ini, ada tweet-tweet berantai di DM karena latihan, juga latihan yang dipindah ke WhatsApp (karena Ami nggak menggunakan LINE).

*
 
6. GagasPedia
Lomba terakhir. GagasMedia meminta anggota tim untuk membuat sebuah gambar menarik yang berupa rekomendasi novel GagasMedia sesuai tema tim masing-masing. #TimCintaPertama harus menyisipkan novel-novel bertema cinta pertama. #TimPDKT harus menyisipkan novel-novel bertema PDKT. Dan seterusnya. Dan, itu harus disajikan dengan menarik. Gambar-gambarnya bisa kamu lihat di Instagram.com/GagasMedia, ya.
 
Saya memilih akun Jiha, Evi, dan Dian dari akun @NovelAddict_ (udah pada follow belum?). Karena saya yakin bahwa mereka punya banyak referensi novel yang dibutuhkan untuk lomba ini. Ada beberapa revisi kecil yang perlu dijalani @NovelAddict_ sebelum diunggah ke Instagram. Saya cukup yakin dengan bahan yang dikumpulkan oleh @NovelAddict_. Gambar mereka berupa kumpulan quotable dari novel bertemakan cinta pertama. Saat melihatnya, saya berpikir bahwa kata-kata yang quotable dalam sebuah gambar itu mendatangkan likes secara sendirinya.

[tambahan: meskipun ada tiga orang di balik akun @NovelAddict_, hanya Jiha yang maju untuk perlombaan ini. Bahkan saya dan Jiha melakukan personal chat, konsultasi mengenai GagasPedia. Perihal mengapa saya menyebut tiga nama di atas adalah karena saya menghargai mereka selaku akun @NovelAddict_]
 
Karena nilai ditentukan berdasarkan penilaian juri (Mbak Resita, Pemred Gagas Media) dan likes terbanyak, usaha kami adalah menyampaikan kepada teman masing-masing untuk likes gambar tersebut. Lalu, kami juga bilang ke teman masing-masing itu untuk sampaikan ke teman-teman lain. Begitu seterusnya. Saya sendiri melakukan personal chat kepada teman-teman yang masih remaja, lalu minta tolong sampaikan ke teman-teman sekelasknya. Lalu, saya juga bilang ke teman-teman di Rumah Bahasa Surabaya untuk likes foto tersebut, terus sampaikan ke teman-temannya. Terlepas dari banyaknya followers yang dimiliki @OhKutipanBuku dan @NovelAddict_, ada perjuangan yang nyata di baliknya. Membagikan link Instagram dan berkata, "Tolong like ini, ya," tak akan membantu banyak. Memang sudah begitu, sih, sekarang. Butuh semacam personal chat. Dan, itulah yang teman-teman lakukan hingga mendapat likes terbanyak. Dan, Alhamdulillah, menang lagi!
 
***
 
Sebagaimana reality show di tv, kami juga punya "drama"; silang pendapat, kesibukan masing-masing, koneksi internet yang tidak berjalan dengan baik saat lomba. Namun, inilah yang membuat perjuangan terasa semakin berarti.
 
Dan, meskipun kami telah memenangkan sebagian besar lomba, kami tidak boleh besar kepala. Dalam kepercayaan saya, kemenangan ini tidak datang karena kita "hebat", tapi karena kehendak Allah. Akumulasi sementara, kami menduduki peringkat pertama. Besok adalah hari terakhirnya. Apa pun hasilnya, kami siap.
 
***
 
Alasan saya menulis postingan ini adalah karena saya ingin membekukan momen ini, momen bersama teman-teman #TimCintaPertama. (Bahkan hari ini #ProudOfTimCintaPertama jadi Trending Topic di Indonesia, lho).

Meskipun #LCOF berakhir, #TimCintaPertama tidak akan berakhir. Persahabatan tetap berlanjut.
 
Terima kasih untuk teman-teman #TimCintaPertama atas perjuangannya. Terima kasih untuk Kak Any, co-host #TimCintaPertama yang kece, yang membuat saya percaya pada pilihan saya. Terima kasih buat tim marketing GagasMedia yang telah menemukan ide keren ini. Dan, seluruh awak GagasMedia Group.
 
Sukses dan berkembang selalu, bersama-sama.
 
-- alvi syahrin